Sabtu, 15 September 2012

Silsilah Sultan2 Pahang-Aceh-Inderapura

(0067) PAHANG DI BAWAH TAKLUK RAJA ACEH (1618-1641M)

1615M
RAJA BUJANG (Putera SULTAN ALAUDDIN RIAYAT SHAH III - Raja Johor-Riau) telah dihantar untuk menerajui TAKHTA PAHANG menggantikan Putera Sultan Abdul Ghafur Muhiyuddin Shah (SP XII, 1592-1614M) yang merampas kuasa.

1618M
SULTAN ISKANDAR MUDA DERMA WANGSA PERKASA ALAM SHAH (Raja Aceh Ke-22, 1607-1636M) telah menyerang PEKAN (Hilir Pahang), dan menakluk Pahang setelah RAJA PAHANG kalah berperang. Meskipun begitu, sewaktu serangan dan penaklukan Pahang oleh RAJA ACEH ini, ULU PAHANG, khasnya JELAI dan LIPIS di bawah pemerintahan SERI MAHARAJA PERBA@MAHAJA PERBA tidak tergugat sama sekali kerana lokasi Ulu Pahang yang terlalu jauh di pedalaman lagi penuh berbahaya.



FOTO 1 :
SULTAN ISKANDAR MUDA DERMA WANGSA PERKASA ALAM SHAH
RAJA ACEH KE-22, 1607-1636M

Natijah buruan Aceh, RAJA BUJANG (RAJA PAHANG - keturunan Raja Johor-Riau) sempat melarikan diri ke PULAU LINGGA. Ayahanda mertua baginda, SULTAN AHMAD@RAJA ABDULLAH (SP XI, 1590-1591M), dan puteranya RAJA MUGHAL serta 10,000 RAKYAT PAHANG telah dibawa ke ACEH.

Serangan dan Penaklukan oleh ACEH terhadap HILIR PAHANG, terutama KOTARAJAPEKAN menyebabkan ramai para Pembesar Pahang, para Pahlawan@Panglima Pahang, dan rakyat jelata yang terbunuh di samping 10,000 orang rakyat Pahang dibawa ke ACEH. Sebahagian rakyat HILIR PAHANG juga tidak diragui lari menyelamatkan diri ke ULU PAHANG menyusur Sg. Jelai dari TEMBELING mudik ke hulu mauk ke wilayah pemerintahan SERI MAHARAJA PERBA@MAHARAJA PERBA@TO' RAJA, dan menyebabkan jumlah rakyat di ULU PAHANG semakin ramai.

Waktu ini jugalah SERI MAHARAJA PERBA@MAHARAJA PERBA dipecayai memperkuatkan benteng pertahanan Ulu Pahang, khasnya di JELAI dengan melatih Pahlawan-Pahlawan Jelai yang gagah perkasa. Waktu ini jugalah pelbagai jenis PENCAK SILAT diajar dan dikembangkan oleh Mahaguru-Mahaguru Silat.

1620M

PUTERI SAFIATUDDIN, puteri hasil perkahwinan SULTAN ISKANDAR MUDA-PUTERI SENDI RATNA INDRA kemudiannya dikahwinkan dengan RAJA MUGHAL (Putera Pahang).

1621M
Setelah menjadi menantu Sultan Iskandar Muda, RAJA MUGHAL (Putera Pahang) diangkat menjadi PUTERA MAHKOTA ACEH.

Lewat peristiwa ini, SULTAN ISKANDAR MUDA telah menikahi PUTERI KAMALIAH@JAMALIAH (Permaisuri Sultan Ahmad - Pahang) setelah Sultan Ahmad bersetuju untuk menceraikan isterinya, manakala SULTAN AHMAD - PAHANG pula bersetuju untuk menikahi PUTERI SENDI RATNA INDRA (Permaisuri Sultan Iskandar Muda) setelah Raja Aceh itu menceraikan isterinya.

Sebagai bukti cinta SULTAN ISKANDAR MUDA kepada PUTERI PAHANG, yakni PUTERI KAMALIAH@JAMALIAH, Baginda telah membina sebuah TAMAN yang dikenali sebagai BANGUNAN GEGUNONGAN@TAMAN PUTERI PAHANG.




FOTO 2 : TAMAN PUTERI PAHANG - BANDA ACHEH

Dalam hal ini, tidaklah berlebih-lebihan dikatakan bahawa sebahagian daripada nenek-moyang penduduk Aceh sekarang (abad ke-21M) terdiri daripada RAKYAT PAHANG yang ke Aceh itu. Justeru, sejak abad ke-17M bermulalah hubungan SOSIO-POLITIK dan SOSIO-BUDAYA antara ACEH-PAHANG.

1636M
RAJA MUGHAL (Putera Pahang) telah didaulatkan sebagai RAJA ACEH kE-23 dengan gelaran SULTAN ISKANDAR THANI (1636-1641M). Baginda seorang raja yang adil, berilmu dan kebijaksanaannya bersandar kepada Al-Quran dan Sunah Rasulullah SAW.

1641M
SULTAN ISKANDAR THANI - RAJA ACEH mangkat, dan jenazah baginda disemadikan dI MAKAM RAJA-RAJA SEMENANJUNG TANAH MELAYU (Berhampiran dengan TAMAN PUTERI PAHANG).

Jumat, 14 September 2012

Gempa Kembali Kejutkan Padang

 Provinsi Sumatra Barat
Gempa Kembali Kejutkan Padang
BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Padang Today  Berita Peristiwa  Jumat, 14/09/2012 - 12:51 WIB  andri mardiansyah  776 klik
Gempa Kembali Kejutkan Padang
Pasca Banjir Bandang yang menghantam sebagian Kota Padang Rabu (12/9) lalu yang membuat kecemasan sebagian warga Kota Padang, kali ini warga kembali dikejutkan dengan goyangan gempa yang terjadi sekitar pukul 11.51 Wib Jumat (14/9). Sumber Gempa diketahui berasal dari 162 km Tenggara Kepulauan Mentawai dengan kekuatan 6.1 Sr, kedalaman 83 Km, koordinat 3.51 LS dan 100.32 BT.

Dijelaskan Try, Staf Analisa Kegempaan BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang, Gempa yang berada di 162 Km Tenggara tersebut berada dekat dari Pulau Pagai selatan Kepulauan Mentawai dan tidak berpotensi Tsunami, namun demikian diharapkan kepada semua Masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan.

"Gempa yang dirasakan tidak berpotensi Tsunami, kemungkinan gempa susulan ada namun semua masyarakat harus tetap waspada mengingat sumbar memang rentan akan bencana kegempaan,"ujar Try, Jumat (14/9).

Pantauan dilapangan seputaran Ulak Karang, walau gempa dirasa tidak terlalu kuat namun cukup membuat kecemasan sebagian Warga Kota Padang, apalagi baru beberapa hari lalu banjir bandang melanda kota padang,"kita cukup merasakan goyangan gempa, walau ada kekhawatiran akan adanya gempa susulan yang lebih besar, namun kita tetap tenang dan waspada, kita juga telah belajar dari pengalaman yang sudah-sudah,"tutur Sari, dan kasyanto, warga Ulak Karang Padang.

Walau Gempa dirasa tak begitu kuat dan tidak berpotensi Tsunami, BMKG Padang panjang tetap menghimbau kepada semua lapisan Masyarakat untuk tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, Gempa Skala kecil bukan tidak berpengaruh apa-apa namun semua tetap harus waspada agar dampak yang ditimbulkan apabila ada gempa susulan dapat segera diantisipasi. (*)
[ Red/web administrator]-Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar

Kamis, 13 September 2012

Perenang Sumbar Pecahkan Rekor PON Yosita Raih Emas dan Perak Pertama

Perenang Sumbar Pecahkan Rekor PON
Yosita Raih Emas dan Perak Pertama
Padang Ekspres • Senin, 10/09/2012 11:05 WIB • GANDA CIPTA • 1154 klik
Perenang Sumbar, Yosita (tengah)
Pekanbaru, Padek—Dahaga Sumbar akan medali, akhirnya terobati. Kontingen Ra­nah Mi­nang pa­cah ta­lua me­dali dari no­mor aqua­tic, lewat pe­renang an­dalan Pa­tri­sia Yosita Hapsari. Yang mem­bang­gakan, perenang asal Ambacang Swim­ming Club ASC) itu, tidak hanya me­raih medali emas bagi Sumbar, ta­pi sekaligus memecahkan re­kor Pekan Olahraga Nasional (PON). Selain emas, kemarin, Yo­sita juga meraih satu medali pe­rak.

Sayangnya, sukses pe­re­nang yang ditangani pe­latih ‘bertangan di­ngin’ Andre Mardian itu, tidak diikuti atlet Sumbar lain­nya. Akibatnya, hing­ga hari kemarin (9/9), kontingen Tuah Sakato harus puas di peringkat ke-9 klase­men perolehan medali sementara dengan 1 emas, dan 1 perak.

Puncak klasemen sementara ditempati kon­tingen Jawa Barat dengan 3 emas, 3 pe­rak, dan 4 perunggu, disusul Jawa Timur (3 emas, 3 perak, 1 perunggu), dan DKI Jakarta (2 emas, 3 perak, dan 1 perunggu).

Medali emas Yosita itu, me­mang sudah diprediksi sebelum­nya. Berlomba di Aquatik Centre Rumbai, Yosita merajai no­mor andalannya 100 meter gaya be­bas putri sejak penyisihan. Yo­sita mengukuhkan dirinya seba­gai yang terbaik di nomor itu, se­telah di final mencatat waktu ter­baik 00.58.09.

Dia mengalahkan perenang an­dalan Jawa Timur yang lebih di­favoritkan meraih medali emas, Enny Suliaswati yang ha­nya men­catat waktu 00.58.39. Se­­mentara tempat ketiga ditem­pa­ti Khatriana dari DKI Jakarta yang finis dengan waktu 00.59.32.

Tidak sekadar meraih me­dali emas, namun Yosita juga memecahkan rekor PON yang dibuat Nancy Suryaatmadja pada PON Kaltim 2008. Rekor Nancy sendiri 00.58.71. Selain itu, kebanggaan lain yang patut di­syukurinya adalah mampu me­­ngalahkan Enny yang me­ru­pakan pemegang rekor na­sional dengan catatan waktu 00.57.14.

Sementara itu, raihan perak di­dulang Yosita dari kayuhan no­mor 200 meter gaya ganti per­orangan putri. Pada nomor ter­se­but dia mencatat waktu 02.25.53. kalah empat detik le­bih dari Perenang Jabar Ressa Ka­nia Dewi yang mencatat wak­tu 02.21.52. Catatan Ressa itu ju­g­a memecahkan rekor PON yang dicatat Elfira Rosa Na­sution pa­da PON 1996 Jakarta degan ca­tatan waktu 02.22.52. Se­dang­kan medali perunggu di nomor ini diraih Fibriani R Marita (Ja­tim) dengan catatan waktu 02.26.85.

Seusai bertanding, kepada wartawan Yosita mengaku baha­gia karena bukan saja emas per­tama untuk Sumbar, tapi juga emas pertama bagi dirinya sen­diri di ajang PON. “Emas ini saya per­sembahkan terutama sekali un­t­uk kedua orangtua saya. Ini juga emas buat seluruh mas­ya­rakat Sumbar,” ujarnya.

Harapan emas dari kolam renang tidak berakhir sampai di sini. Sebab, Yosita sendiri masih akan turun pada empat nomor lagi, yakni 400 meter gaya bebas, 400 meter gaya ganti, 50 meter ga­ya bebas, dan 200 meter gaya be­bas. “Nomor utama saya sebe­nar­nya ada pada 200 meter gaya bebas. Saya harap besok (hari ini, red) akan bisa mendapatkan emas pada nomor tersebut,” tu­turnya. Hari ini, selain akan tu­run pada nomor 200 meter gaya bebas, dia juga akan turun pada 50 meter gaya bebas.

Ketua Umum KONI Sum­bar, Syahrial Bakhtiar yang ikut me­nyaksikan perlombaan, me­ngucapkan syukur atas keber­hasilan Yosita. “Mudah-mudahn ini bisa membuat kontingen Sumbar bisa lebih bersemangat lagi. Dan saya berharap dia kem­bali meraih emas pada per­tandingan besok (hari ini, red),” kata Syahrial.

Bonus Spontan

Atas keberhasilannya itu, Yo­sita langsung mendapat kucu­r­an bonus. Secara spontan, saat me­ngunjungi Yosita di belakang po­dium penyerahan medali, Syah­rial memberi dua ikat pe­nuh uang pecahan Rp 50 ribu atau sebanyak Rp 10 juta.

Tak hanya itu, Wakil Ketua Umum III KONI Sumbar yang juga Ketua Umum Ambacang Swimming Club, Sengaja Budi Syukur juga memberikan bonus kepada Yosita sebesar Rp 5 juta.
Budi Syukur mengaku terha­ru dengan prestasi perenang bi­naannya tersebut. ”Dengan hasil yang diraih Yosita, sekaligus mem­pertahankan tradisi emas per­dana Sumbar yang disum­bang­kan perenang asal Am­ba­cang Swimming Club,” ung­kap Budi dengan suara ber­getar karena haru.

Pada PON Kaltim 2008 lalu, emas Sumbar juga terlahir dari ca­bang renang. Waktu itu, diper­sem­bahkan perenang Am­ba­cang Swimming Club lainnya, Harizal. Sayangnya, pada PON kali ini, Harizal belum mampu bi­cara banyak. Pahlawan PON Sum­­bar di PON Kaltim lalu yang per­nah menghuni Pelatnas Re­nang itu, kemarin, hanya mam­pu finis di urutan ketujuh de­ngan catatan waktu 02.18.58 saat turun pada nomor 200 me­ter gaya punggung putra.

Pada nomor itu, perenang Riau asal Bali,  Gede Siman Su­dar­tama menjadi yang terbaik de­ngan catatan waktu 02.05.01. Pe­rak diraih Ricky Anggawijaya (Ja­bar) dengan catatan waktu 02.08.95. Sedangkan perunggu di­raih Putu Takahide Valentino (Ba­li) dengan catatan waktu 02.12.23.

Selain renang, cabang lain yang bisa menjadi tempat Sum­bar mendulang medali adalah ca­bang atletik. Harapan itu akan di­ketahui hasilnya hari ini. Sprin­ter Lusiana Satriani turun pada final nomor 200 meter putri.

Walau peluang menyabet emas berat, tetapi Lusiana opti­mis­tis memberikan yang terbaik ba­­gi kontingen Sumbar. Soal pe­luang Lusiana, diakui salah se­orang pelatih Sumbar, Anwar sa­ngat berat. Pasalnya, pelari na­sional akan menjadi lawan­nya, seperti Irene, Dedeh Hera­wati dan lainnya. (*)

Rakyat SUMBAR

RAKYAT SUMBAR
Aneh, Database Korban Gempa Hilang
Padang Ekspres • Kamis, 13/09/2012 10:34 WIB • • 203 klik
-
Padang, Padek—Validasi data korban gempa di Padang dan Agam masih terkendala. Sebab, database korban gempa di dua daerah tersebut tidak lengkap, bahkan hilang. Akibatnya, fasi­litator harus kembali melakukan validasi data  pada seluruh korban gempa sehingga memakan waktu lama.

Kepala Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) Sumbar, Zulfiatno menyebutkan, untuk dana gempa tahap IV ini, Sumbar mendapatkan bantuan Rp 300 miliar untuk empat kabu­paten/kota. Yaitu, Pa­dang­paria­man, Padang, Pasaman Barat dan Agam. “Untuk Padangpariaman dan Pasbar, validasi data korban gempa sudah 100 persen. Se­dangkan Padang, baru 50 persen dan Agam 75 persen,”ujarnya.

Untuk Pasbar dan Pa­dang­pariaman, kini dalam tahap pen­cairan. Dana gempa tahap IV sudah ditransfer pusat ke pejabat pembuat komitmen (PPK) di dae­rah. Diperkirakan pada minggu depan, dana tersebut sudah masuk ke rekening pokmas. Dari Rp 167 miliar yang akan disalurkan, se­banyak Rp 140 miliar sudah ter­sedia dan segera disalurkan me­lalui PPK.

“Insya Allah minggu depan sudah ditransfer ke rekening  pok­mas. Sisanya Rp 27 miliar akan diusulkan kembali ke Badan Na­sional Penanggulangan Bencana (BNPB). Masih adanya masyarakat yang belum mendapatkan dana gempa di Padangpariaman, ini dikarenakan  pembentukan pok­masnya terlambat dibanding lo­kasi lain,” jelasnya.

Dia menjelaskan, Padang dan Pasbar terlambat me­nerima bantuan gempa karena masih menunggu kelengkapan data pokmas. Sebagian data awal korban gempa tidak ada lagi di tingkat kelurahan atau di kecamatan.

“Karena itu, fasilitator ha­rus melakukan pendataan ulang terhadap seluruh rumah yang diinformasikan terkena gempa.

Biasanya 1 fasilitator hanya menangani 4 pokmas atau 80 unit rumah. Tapi karena tidak ada database, fasilitator harus melakukan pendataan satu per satu sehingga memakan waktu lama,” ulasnya.

Zulfiatno mengatakan, un­tuk dana gempa tahap IV, kor­ban gempa yang men­da­pat­kan bantuan sebanyak 28.­473 KK. Dengan rincian, Pa­dang 7.225 KK, Padang­paria­man 11.147 KK, Agam 8.003 KK dan Pasbar 2.098 KK. Total bantuan se­besar Rp 400 miliar.

Sesuai juknis BNPB, dae­rah tidak boleh menambah kuota data yang telah ada. Sebab, dana yang telah dia­lo­kasikan telah disesuaikan de­ngan jumlah korban gempa penerima.

“Jika ada korban gempa yang masih tercecer dalam pendataan tahap IV dan itu dapat dibuktikan keben­aran­nya, maka tidak menutup ke­mung­kinan PJOK akan kem­bali mengirimkan data itu ke pusat untuk mendapatkan bantuan. Tapi jika dana di BNPB sudah tak tersedia dan provinsi bisa menalangi dana itu, tak mustahil juga nanti dibantu provinsi. Jadi  hak korban gempa yang tercecer tetap diakomodir,” ucapnya.

Pada pencairan dana gem­pa tahap I, sedikitnya  7.000 KK telah mendapatkan ban­tuan. Tahap II sebanyak 144 ribu KK dan tahap III 23 ribu KK. Total dana yang telah disalurkan dari tahap I sampai III sebanyak Rp 2,4 triliun. Rencana semula, alokasi dana gempa hanya untuk Rp 182 ribu KK.

Kepala PJOK Padang Asnul Zainal Abidin mem­be­narkan Padang belum tuntas me­la­kukan validasi data kor­ban gempa. Alasannya, database gempa tidak lengkap, bahkan ada lurah yang tidak men­ye­rah­kan database. “Baru 50 persen validasi data ter­hadap korban gempa yang bisa kami lakukan,” tuturnya. (ayu)
[ Red/Administrator ]

Rabu, 25 April 2012

RA Kartini Dalam Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini. TANGGAL 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya? Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964. Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa. Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju. Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi. …Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini… Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP). Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ” Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka. Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja. Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu. …maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu... Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi. Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara. Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar. Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry. Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lainya para humanis Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi. Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini. …Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi… Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi: ”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902). ”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna..." (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902). ”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain”(Surat 31 Januari 1903). ”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903). ”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902). ”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902). …Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme… Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme. Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan: ”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi." (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902). Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902). Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini: ”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902). ”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902). …Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat… Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran. Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama. …Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung… Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918). Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme--atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme-- juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School. Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi? Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916). Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat …Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini. Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis: ”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?” Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini: ”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”. …Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional… Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo. Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com] * Artikel ini disarikan dari buku Gerakan Theosofi di Indonesia

RA Kartini Dalam Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme

Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini. 
TANGGAL 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?

Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.

Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.

Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.

Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.
…Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini…
Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme.

Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”

Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu.
…maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu...
Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.

Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara.

Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.

Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry.

Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini

Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lainya para humanis Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi.

Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini.
…Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…
Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.

Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).

”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna..." (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain”(Surat 31 Januari 1903).

”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).

”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).

”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).
…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme…
Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.

Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:

”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi." (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).

Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).

Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:

”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).
…Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat…
Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran. 
Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama.
…Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…
Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918). 
Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme--atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme-- juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School. 
Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?

Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916). 
Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat
…Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia
Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini. 
Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:
”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”
Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini:
”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”.
…Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…
Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo. 
Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com]
* Artikel ini disarikan dari buku Gerakan Theosofi di Indonesia